Sucofindo dan HCETS Perkuat Sinergi Kembangkan Solusi Waste to Energy Berkelanjutan
Keterangan Foto: MoU antara Sucofindo dan Hsucheng Environmental Technology Services (Shanghai) Co Ltd. (C:Antara.com)
ILINE JAKARTA — PT Sucofindo (Persero) dan Hsucheng Environmental Technology Services (Shanghai) Co Ltd (HCETS) memperkuat kerja sama untuk mendorong pengembangan solusi pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) yang berkelanjutan di Indonesia.
Sinergi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Direktur Utama Sucofindo Sandry Pasambuna dan President Director HCETS Zhou Yitian di Jakarta.
- Baca juga:
Sandry mengatakan kolaborasi ini diharapkan dapat menghadirkan solusi untuk mengurangi beban sampah perkotaan sekaligus menghasilkan energi dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, keberhasilan proyek WTE tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga harus mempertimbangkan kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas desain dan konstruksi, kesiapan operasional, keandalan aset, pengendalian emisi, serta pengelolaan residu.
“Indonesia membutuhkan solusi yang andal untuk mengurangi beban sampah perkotaan, salah satunya melalui upaya WTE,” ujar Sandry.
Ia menambahkan, Sucofindo akan berperan memberikan assurance secara independen sejak tahap pembangunan, pengoperasian hingga perawatan fasilitas WTE atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
Peran tersebut mencakup pemastian aspek kualitas, keselamatan, keandalan, serta pemenuhan persyaratan teknis dan lingkungan pada setiap tahapan proyek.
Melalui kerja sama ini, HCETS diharapkan mendapatkan mitra testing, inspection, and certification (TIC) di Indonesia yang memiliki jangkauan nasional dan pemahaman terhadap kondisi lokal. Sementara bagi Sucofindo, kolaborasi tersebut dapat memperkuat pengetahuan, kompetensi sumber daya manusia, dan metodologi teknis di bidang WTE.
“Sinergi ini tidak hanya memperkuat peran kami sebagai lembaga assurance yang independen, tetapi juga membuka peluang bagi terciptanya dampak positif yang lebih luas dalam upaya keberlanjutan,” kata Sandry.
Ia menilai pengembangan WTE yang tepat juga dapat mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dan transisi menuju ekosistem yang lebih berkelanjutan. Kolaborasi lintas negara, menurutnya, dapat menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian net zero emission secara bertahap.
Sementara itu, Zhou Yitian mengatakan China dan Indonesia memiliki potensi besar untuk saling melengkapi, baik dari sisi sumber daya industri, kapabilitas teknologi maupun kebutuhan pasar.
“Kondisi ini menjadi landasan yang kokoh untuk semakin memperkuat dan memperluas kerja sama kedua negara,” ujar Zhou.







