https://iline.id


  • Copyright © 2023 - iline.id
    Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
    By : Aditya

    Kopi Java Halu Senilai Rp2,64 Miliar Diekspor ke Inggris

    Keterangan Foto: Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi.

    ILINE JAKARTA - Kopi asal Jawa Barat kembali menembus pasar internasional. Kementerian Perdagangan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat melepas ekspor 10 ton biji kopi mentah (green bean) produksi Java Halu Coffee senilai USD155 ribu atau sekitar Rp2,64 miliar ke Inggris.

    Pelepasan ekspor berlangsung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (18/8/2026).

    Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan ekspor tersebut menunjukkan potensi kopi Indonesia sekaligus keberhasilan kolaborasi antara pelaku UMKM, pemerintah pusat dan daerah, serta pemangku kepentingan lainnya.

    “Pelepasan ekspor kali ini merupakan bukti nyata bahwa UMKM yang diberikan wadah dan pendampingan tepat sanggup menembus pasar dunia,” ujar Fajarini.

    Menurutnya, Java Halu Coffee menjadi salah satu contoh UMKM kopi yang konsisten mengembangkan pasar ekspor sejak 2019. Produk kopi perusahaan tersebut kini telah menjangkau sejumlah negara, di antaranya Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Australia, Korea Selatan, Turki, dan negara-negara di Timur Tengah.

    Kemendag turut mendukung pengembangan pasar Java Halu Coffee melalui promosi dan fasilitasi akses pasar internasional. Pada 2023, perusahaan tersebut difasilitasi mengikuti World of Coffee di Athena, Yunani, dan International Coffee & Chocolate Exhibition di Riyadh, Arab Saudi. Java Halu Coffee juga tercatat rutin mengikuti Trade Expo Indonesia.

    Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan ekspor tersebut membuktikan kualitas kopi Jawa Barat mampu bersaing di pasar global. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata dia, akan terus mendorong pelaku usaha agar produk unggulan daerah semakin dikenal di pasar internasional.

    Direktur Java Halu Coffee Rani Mayasari mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Bank Indonesia, dan Kemendag dalam pengembangan usaha serta pasar ekspor sejak 2019.

    Di sisi lain, Fajarini menilai pengembangan ekspor kopi tidak boleh berhenti pada pengiriman biji mentah. Indonesia perlu meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan produk, penguatan merek, serta diferensiasi kopi berdasarkan karakteristik daerah asal.

    “Indonesia tidak kekurangan kopi berkualitas. Kita memiliki kopi dari berbagai daerah dengan karakteristik dan cita rasa yang berbeda. Keunggulan tersebut perlu diterjemahkan menjadi diferensiasi produk dan kekuatan merek yang mampu memberikan nilai tambah lebih tinggi,” katanya.

    Fajarini juga mendorong penguatan rantai pasok dari petani hingga buyer internasional, termasuk penerapan ketertelusuran dan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, semakin besar nilai tambah yang diciptakan di dalam negeri, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat dan peluang kerja yang tercipta.